Berdiri dlm mahallul qiyam, bukan karena Nabi hadir, tetapi. ... 

Abuya Sayid Muhammad Al Maliki menjelaskan:

مسألة القيام في المولد:

وقد جرت العادة بالقيام عند قراءة مولده عليه الصلاة والسلام لدى ذكر الوضع الشريف، وما يتبعه من حسن التوصيف، وهذا القيام لم يفعله السلف، وإنما عُمل به من بعدهم من الخلف، وليس هو في الحقيقة للذات المحمدية كما توهمه قوم من البرية، فاعترضوا وأطنبوا، وإلى إنكار فعله ذهبوا، وإنما هو قيام فرح وسرور، وابتهاج وطيب وحبور، ببرزه ﷺ لهذا الوجود وإشراق نوره فيه على كل موجود، وشكر لله تعالى على ما به أولى من هذه النعمة العظيمة، والمنّة الجسيمة، التي هي منّة الإنعام به على الخليفة، ومن غير استحقاق منهم، ولا سبب ظاهر، ولا عمل طريقة، والقيام فرحًا بالمصطفى ﷺ بما هو منه أو راجع إليه، له أصل أصيل في الشرع الشريف، يعتمد عليه ويعوّل عليه.

فقد لعبت الحبشة بحرابهم المسلم لزمنهم واضطرابهم لما قدم عليه الصلاة والسلام والسلام المدينة فرحًا بقدوم طلعته المباركة. أخرج ذلك أبو داود في سننه من حديث أنس بن مالك. وكذلك لعبوا في المسجد النبوي في يوم عيد من الأعياد بالدُّرَق والحراب لعبهم المعتاد، وجعلوا يزفنون ـ أي يرقصون ـ والنبي ﷺ وعائشة ينظران إليهم...

Terjemahannya

“Masalah berdiri dalam acara Maulid:”

Sudah menjadi kebiasaan untuk berdiri ketika pembacaan Maulid Nabi ﷺ sampai pada penyebutan kelahiran beliau yang mulia, beserta uraian tentang sifat-sifatnya yang baik.

Berdiri ini memang tidak dilakukan oleh generasi Salaf, tetapi diamalkan oleh generasi setelah mereka. Namun, pada hakikatnya berdiri tersebut bukan karena menganggap Dzat Nabi Muhammad ﷺ hadir secara fisik, sebagaimana yang dipahami oleh sebagian orang. Karena pemahaman itulah sebagian mereka memprotes dan berpanjang-panjang dalam mengingkarinya.

Sesungguhnya berdiri itu merupakan ungkapan kegembiraan, kebahagiaan, suka cita dan rasa senang atas lahirnya Rasulullah ﷺ ke alam wujud serta terpancarnya cahaya beliau kepada seluruh makhluk.

Ia juga merupakan bentuk syukur kepada Allah Ta‘ala atas nikmat yang agung dan karunia yang besar ini, yaitu nikmat Allah menganugerahkan Rasulullah ﷺ kepada umat manusia, tanpa mereka memiliki hak untuk menuntutnya, tanpa sebab yang menjadikannya wajib, dan tanpa amal tertentu yang menyebabkan mereka berhak mendapatkannya.

Berdiri sebagai bentuk kegembiraan terhadap al-Musthafa ﷺ, karena sesuatu yang berasal dari beliau atau yang berkaitan dengan beliau, memiliki dasar yang kuat dalam syariat yang mulia dan dapat dijadikan pegangan.

Kemudian penulis memberikan contoh dari praktik para sahabat:

Orang-orang Habasyah pernah bermain dengan tombak-tombak mereka karena kegembiraan dan kegembiraan mereka ketika Nabi ﷺ datang ke Madinah dengan membawa kemuliaan dan keberkahan. Hal tersebut diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya dari hadis Anas bin Malik.

Demikian pula mereka pernah bermain di Masjid Nabawi pada hari raya dengan menggunakan perisai dan tombak sebagaimana kebiasaan mereka. Mereka melakukan gerakan yang disebut yazfinūn—yakni menari—sementara Nabi ﷺ dan Sayyidah ‘Aisyah melihat mereka.